Artikel 6 : Client Centered Therapy

Pencetus Person centered therapy adalah Carl Rogers. Rogers  mengajukan dua asumsi dasar dari teori berpusat pada diri (person centered), yakni kecenderungan formatif dan kecenderungan aktualisasi. Kecenderungan formatif adalah kecenderungan dari setiap hal, baik secara organic maupun non-organic, untuk berevolusi dari bentuk yang sederhana menjadi bentuk yang lebih kompleks, sedangkan kecenderungan aktualisasi adalah kecenderungan setiap manusia untuk bergerak menuju keutuhan atau pemuasan dari potensi.

Diri dan Aktualisasi diri

Menurut rogers (1959), bayi mulai mengembangkan konsep diri yang samar saat sebagian pengalaman mereka telah dipersonalisasikan dan dibedakan dalam kesdaran pengalaman sebagai “aku”. Saat bayi telah membangun struktur diri yang mendasar, kecenderungan mereka untuk aktualisasi mulai berkembang. Aktualisasi diri merupakan bagian dari kecenderungan aktualisasi sehingga tidak sama dengan kecenderungan itu sendiri. Kecenderungan aktualisasi merujuk pada pengalaman organisme dari individu, sehingga hal tersebut merujuk pada manusia secara keseluruhan (kesadaran & ketdaksadaran, fisiologis, dan kognitif). Sebaliknya, aktualisasi diri adalah kecenderungan untuk mengaktulisasikan diri sebagaimana yang dirasakan dalam kesadaran.

Konsep diri

Konsep diri meliputi seluruh aspek dalam keberadaan dan pengalaman seseorang yang disadarai oleh individu tersebut. Konsep diri terbagi menjadi dua, yakni konsep diri real dan konsep diri ideal.

Hambatan pada kesehatan psikologis

Menurut rogers, tidak semua manusia dapat menjadi manusia yang sehat secara psikologis, malah, kebanyakan manusia mengalami beberapa hambatan pada kesehatan psikologis, seperti

  1. Penghargaan bersyarat, mereka mempersepsikan bahwa orang tua, teman sebaya, atau pasangan mereka mencintai dan menerima mereka.
  2. Inkongruensi, ketidakseimbangan psikologis dimulai saat kita gagal mengenali pengalaman organismic kita sebagai pengalaman diri, yaitu ketika kita tidak secara akurat membuat simbolisasi dari pengalaman organismic kita kedalam kesadaran, karena pengalaman tersebut terlihat tidak konsisten dengan konsep diri yang sedang timbul menyebabkan gangguan psikiologis.
  3. Sikap defensive, perlindungan atas konsep diri dari kecemasan dan ancaman, dengan penyangkalan atau distorsi dari pengalaman yang tidak konsisten dengan konsep diri,
  4. Disorganisasi, dalam kondisi disorganisasi, manusia kadang berperilaku secara konsisten dengan pengalaman organismiknya dan kadang sesuai dengan konsep diri yang hancur.

Psikoterapi

  • Kondisi, klien yang cemas atau rentan harus bertemu dengan terapis yang kongruen, yang juga memiliki empati, dan penerimaan positif tidak bersyarat untuk klien tersebut.
  • Proses, rogers membagi kontinum menjadi tujuh tahap, yakni
  1. Tahap 1, dicirikan dengan ketidakmauan untuk mengomunikasikan apa pun tentang diri
  2. Tahap 2, klien mulai menjadi sedikit lebih tidak kaku.
  3. Tahap 3, klien lebih bebas dalam membicarakan diri mereka walaupun masih sebagai objek.
  4. Tahap 4, mulai berbicara mengenai perasaan mendalam, tetapi bukan yang dirasakan saat itu.
  5. Tahap 5, klien mulai melalui perubahan dan pertumbuhan yang signifikan
  6. Tahap 6, mengalami pertumbuhan yang dramatis dan pergerakan menuju seseorang manusia yang berfungsi sepenuhnya.
  7. Tahap 7, klien telah menjadi ‘manusia masa depan” yang berfungsi sepenuhnya.
  • Hasil

Salah satu hasil yang paling mendasar dari terapi berpusat pada klien adalah klien yang kongeruen, tidak defensive, dan lebih terbuka terhadap pengalaman. Hasil lainnya adalah konsekuensi logis dari hasil dasar ini.

Tujuan

Menciptakan iklim yang kondusif bagi usaha membantu klien untuk menjadi seorang pribadi yang berfungsi penuh.

Fungsi dan Peran

Peran terapis berakar pada cara-cara keberadaannya dan sikap-sikapnya, bukan pada penggunaan teknik-teknik yang dirancang untuk menjadikan klien “ berbuat sesuatu”. Sedangkan fungsinya adalah membangun suatu iklim terapeutik yang menunjang pertumbuhan klien.

Sumber : Feist, Jess., Feist, J, Gregory. (2013). Teori kepribadian. Jakarta : Salemba Humanika.

Corey, Gerald. (2007). Teori dan praktek konseling dan psikoterapi. Bandung : PT Refika Aditama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s