MAKALAH SUKU KARO

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah

Suku Karo adalah suku asli yang mendiami Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Deli Serdang, Kota Binjai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Dairi, Kota Medan, dan Kabupaten Aceh Tenggara. Nama suku ini dijadikan salah satu nama kabupaten di salah satu wilayah yang mereka diami (dataran tinggi Karo) yaitu Kabupaten Karo. Suku ini memiliki bahasa sendiri yang disebut Bahasa Karo. Suku Karo mempunyai sebutan sendiri untuk orang Batak yaitu Kalak Teba umumnya untuk Batak Tapanuli. Pakaian adat suku Karo didominasi dengan warna merah serta hitam dan penuh dengan perhiasan emas. Dimakalah akan dibahas sistem kekerabatan, pernikahan dan pembatasan jodoh, rumah tangga dan keluarga inti, kelompok kekerabatan, aktivitas tolong-menolong, peristiwa bencana dan kematian, dan sistem religi suku karo.

1.2  Rumusan masalah

1        Bagaimana Sistem Kekerabatan suku Karo?

2        Bagaimana acara pernikahan dan pembatasan jodoh di suku Karo?

3        Seperti apa rumah tangga dan keluarga inti disuku Karo?

4        Bagaimana sistem kelompok kekerabatan di suku Karo?

5        Apa saja aktivitas tolong menolong di suku Karo?

6        Bagaimana peristiwa bencana dan kematian di suku Karo?

7        Seperti apa sistem religi suku Karo?

BAB II

PEMBAHASAN

2.1       Sistem Kekerabatan

Suku karo berdomisili di sumatera utara tepatnya di kresidenan sumatera utara pada jaman dahulu. Masyarakat karo menganut kekerabatan parental dan bilateral. Makasudnya, mereka mengikuti garis keturunan ayah. Seluruh hubungan kekerabatan pada masyarakat Karo, baik berdasarkan pertalian darah maupun pertalian karena hubungan perkawinan, dapat disatukan dari tiga jenis  kekeluargaan, yaitu: kalimbubu, senina atau sembuyak, dan anak beru, yang biasanya disimpulkan dalam banyak istilah tetapi maksudnya sama yaitu daliken sitelu. Secara etimologis, daliken sitelu ini berarti tungku yang tiga (daliken = batu tungku, si = yang, teu= tiga). Maksudnya adalah di kehidupan masyarakat karo ini pasti mereka tidak terlepas dari yang namanya tengku untuk menyalakan api (memasak). Lalu Rakut Sitelu berarti ikatan yang tiga. Artinya bahwa setiap individu Karo tidak lepas dari tiga kekerabatan tersebut. Hubungan antara ketiganya tidak dapat dipisahkan di dalam hal adat, dilihat dari aspek-aspek kehidupan secara mendalam, hubungan dari ketiga kekerabatan ini menentukan hak-hak dan kewajiban di dalam masyarakat, di dalam upacara-upacara, hukum, dan di zaman yang lampau dan mempunyai arti yang penting di dalam kehidupan ekonomi dan politik. Di dalam sangkep si telu inilah terletak azas gotong-royong, dan musyawarah dalam arti kata yang sedalam-dalamnya.

Secara etimologis, daliken Sitelu berarti tungku yang tiga (Daliken = batu tungku, Si = yang, Telu tiga). Arti ini menunjuk pada kenyataan bahwa untuk menjalankan kehidupan sehari-hari, masyarakat tidak lepas dari yang namanya tungku untuk menyalakan api (memasak). Lalu Rakut Siteluberarti ikatan yang tiga. Artinya bahwa setiap individu Karo tidak lepas dari tiga kekerabatan ini. Namun ada pula yang mengartikannya sebagai sangkep nggeluh (kelengkapan hidup). Setiap anggota masyarakat Karo dapat berlaku baik sebagai kalimbubu,senina/sembuyak, anakberu, tergantung pada situasi dan kondisi saat itu.

Kalimbubu

Kalimbubu adalah kelompok pihak pemberi wanita dan sangat dihormati dalam sistem kekerabatan masyarakat Karo. Masyarakat Karo menyakini bahwa kalimbubu adalah pembawa berkat sehingga kalimbubu itu disebut juga dengan Dibata Ni Idah(Tuhan yang nampak). Sikap menentang dan menyakiti hatikalimbubu sangat dicela.

Kalau dahulu pada acara jamuan makan, pihak kalimbubu selalu mendapat prioritas utama, para anakberu (kelompok pihak penerima istri) tidak akan berani mendahului makan sebelum pihak kalimbubu memulainya, demikian juga bila selesai makan, pihak anakberu tidak akan berani menutup piringnya sebelum pihak kalimbubunya selesai makan, bila ini tidak ditaati dianggap tidak sopan. Dalam hal nasehat, semua nasehat yang diberikankalimbubu dalam suatu musyawarah keluarga menjadi masukan yang harus dihormati, perihal dilaksanakan atau tidak masalah lain.

Oleh Darwan Prints, kalimbubu diumpamakan sebagai legislatif, pembuat undang-undang.

Kalimbubu dapat dibagi atas 2:

  • Kalimbubu berdasarkan tutur
    • Kalimbubu Bena-Bena disebut juga kalimbubu tua adalah kelompok keluarga pemberi dara kepada keluarga tertentu yang dianggap sebagai keluarga pemberi anak dara awal dari keluarga itu. Dikategorikan kalimbubu Bena-Bena, karena kelompok ini telah berfungsi sebagai pemberi dara sekurang-kurangnya tiga generasi.
    • Kalimbubu Simajek Lulang adalah golongankalimbubu yang ikut mendirikan kampung. Status kalimbubu ini selamanya dan diwariskan secara turun temurun. Penentuan kalimbubu ini dilihat berdasarkan merga. Kalimbubu ini selalu diundang bila diadakan pesta-pesta adat di desa di Tanah Karo.
  • Kalimbubu berdasarkan kekerabatan (perkawinan)
    • Kalimbubu Simupus/Simada Dareh adalah pihak pemberi wanita terhadap generasi ayah, atau pihak clan (semarga) dari ibu kandung ego (paman kandung ego). (Petra : ego maksudnya orang, objek yang dibicarakan)
    • Kalimbubu I Perdemui atau (kalimbubu si erkimbang), adalah pihak kelompok dari mertua ego. Dalam bahasa yang populer adalah bapak mertua berserta seluruh senina dan sembuyaknya dengan ketentuan bahwa si pemberi wanita ini tidak tergolong kepada tipe Kalimbubu Bena-Bena dan Kalimbubu Si Mada Dareh.
    • Puang Kalimbubu adalah kalimbubu dari kalimbubu, yaitu pihak subclan pemberi anak dara terhadap kalimbubu ego. Dalam bahasa sederhana pihak subclan dari istri saudara laki-laki istri ego.
    • Kalimbubu Senina. Golongan kalimbubu ini berhubungan erat dengan jalur senina darikalimbubu ego. Dalam pesta-pesta adat, kedudukannya berada pada golongan kalimbubuego, peranannya adalah sebagai juru bicara bagi kelompok subclan kalimbubu ego.
    • Kalimbubu Sendalanen/Sepengalon. Golongan kalimbubu ini berhubungan erat dengan kekerabatan dalam jalur kalimbubu dari senina sendalanen, sepengalon (akan dijelaskan pada halaman-halaman selanjutnya) pemilik pesta.

Anak Beru

Anak beru adalah pihak pengambil anak dara atau penerima anak gadis untuk diperistri. Oleh Darwan Prints, anakberu ini diumpamakan sebagai yudikatif, kekuasaan peradilan. Hal ini maka anakberu disebut pula hakim moral, karena bila terjadi perselisihan dalam keluarga kalimbubunya, tugasnyalah mendamaikan perselisihan tersebut.

Anak beru dapat dibagi atas 2:

  • Anak beru berdasarkan tutur
    •  Anakberu Tua adalah pihak penerima anak wanita dalam tingkatan nenek moyang yang secara bertingkat terus menerus
      minimal tiga generasi.
    • Anakberu Taneh adalah penerima wanita pertama, ketika sebuah kampung selesai didirikan.
  • Anak beru berdasarkan kekerabatan
    • Anak beru Jabu (Cekoh Baka Tutup, dan Cekoh Baka Buka). Cekoh Baka artinya orang yang langsung boleh mengambil barang simpanankalimbubunya. Dipercaya dan diberi kekuasaan seperti ini karena dia merupakan anak kandung saudara perempuan ayah.
    • Anak beru Iangkip, adalah penerima wanita yang menciptakan jalinan keluarga yang pertama karena di atas generasinya belum pernah mengambil anak wanita dari pihak kalimbubunya yang sekarang. Anakberu ini disebut juga anakberu langsung yaitu karena dia langsung mengawini anak wanita dari keluarga tertentu. Masalah peranannya di dalam tugas-tugas adat, harus dipilah lagi, kalau masih orang pertama yang menikahi keluarga tersebut, dia tidak dibenarkan mencampuri urusan warisan adat dari pihak mertuanya. Yang boleh mencampurinya hanyalah Anakberu Jabu.
    • Anak beru Menteri adalah anakberu darianakberu. Fungsinya menjaga penyimpangan-penyimpangan adat, baik dalam bermusyawarah maupun ketika acara adat sedang berlangsung. Anakberu Menteri ini memberi dukungan kepadakalimbubunya yaitu anakberu dari pemilik acara adat.
    • Anak beru Singikuri adalah anakberu darianakberu menteri, fungsinya memberi saran, petunjuk di dalam landasan adat dan sekaligus memberi dukungan tenaga yang diperlukan.

Senina/Sembuyak

Hubungan perkerabatan senina disebabkan seclan, atau hubungan lain yang berdasarkan kekerabatan.
Senina ini dapat dibagi dua :

  • Senina berdasarkan tutur yaitu senina semerga. Mereka bersaudara karena satu clan (merga).
    • Senina berdasarkan kekerabatan
      • Senina Siparibanen, perkerabatan karena istri saling bersaudara.
      • Senina Sepemeren, mereka yang berkerabat karena ibu mereka saling bersaudara, sehingga mereka mempunyai bebere (beru (clan) ibu) yang sama.
      • Senina Sepengalon (Sendalanen) persaudaraan karena pemberi wanita yang berbeda merga dan berada dalam kaitan wanita yang sama. Atau mereka yang bersaudara karena satu subclan (beru) istri mereka sama. Tetapi dibedakan berdasarkan jauh dekatnya hubungan mereka dengan clan istri. Dalam musyawarah adat, mereka tidak akan memberikan tanggapan atau pendapat apabila tidak diminta.
      • Senina Secimbangen (untuk wanita) mereka yang bersenina karena suami mereka sesubclan (bersembuyak).

2.2 Pernikahan dan pembatasan jodoh

Tahapan pernikahan yang dilakukan secara adat Suku Karo secara umum adalah sebagai berikut:

I. Persiapan Kerja Adat

  1. Sitandan ras keluarga pekepar tahapan ini adalah tahapan perkenalan antara keluarga kedua belah pihak yang akan melangsungkan pernikahan, sekaligus orang tua kedua belah pihak akan menyampaikan kepada “Anak Beru” masing-masing untuk menentukan hari yang baik untuk menggelar pertemuan di rumah pihak “Kalimbubu” untuk membahas rencana “Mbaba Belo Selambar”.
  2. Mbaba Belo Selambar dalam tahapan Mbaba Belo Selambar ini, tempat berkumpul, yaitu di rumah pihak “Kalimbubu”, dalam hal ini pihak laki-laki akan membawa makanan yang sudah dimasak lengkap dengan lauk yang akan menjadi makanan sebelum dilakukan pembicaraan mencari hari yang baik untuk melaksanakan tahapan “Nganting Manuk”
  3. Nganting Manuk dalam tahapan ini akan membicarakan tentang utang-utang adat pada pesta perkawinan yang akan segera digelar, sekaligus merencanakan hari yang baik untuk melangsungkan pernikahan. Namun hari pernikahan tidak boleh lebih 1 bulan sesudah melaksanakan tahapan Ngantig Manuk ini.

II. Hari Pesta Adat

  1. Kerja Adat Pelakasanaan Kerja Adat biasanya dilakukan selama seharian penuh di kampung pihak perempuan. Tempat pelaksanaan Kerja Adat biasanya dilakukan di Balai Desa atau yang biasa juga disebut dengan istilah “Jambur” atau “Lost”
  2. Persadan Tendi Pelaksanaan Persadan Tendi dilakukan pada saat makan malam sesudah siangnya dilakukan Kerja Adat bagi pengantin pria dan wanita. Dalam pelaksaan Persadan Tendi ini akan disiapkan makanan bagi kedua pengantin yang tujuannya adalah untuk memberi tenaga baru bagi pengantin. Pengantin akan diberi makan dalam satu piring yang sudah siapkan.

III Sesudah Pesta Adat

6. Ngulihi Tudung Ngulih tudung dilaksanakan setelah 2-4 hari setelah hari  Pesta Adat berlalu. Orang tua pihak laki-laki kembali datang kerumah Orang tua pihak perempuan (biasanya pihak orang tua laki-laki membawa makanan dan lauk). Dalam prosesi Ngulihi Tudung dilakukan untuk mengambil kembali pakaian-pakaian adat pihak laki-laki yang mungkin ada tertinggal di Desa pihak perempuan disaat pesta adat digelar.

7.Ertaktak

Pelaksanaan ini dilakukan di rumah pihak kalimbubu (pihak perempuan) pada waktu yang sudah ditentukan, biasanya seminggu setelah kerja adat. Disini dibicarakanlah uang keluar saat pergelaraan pesta adat dilaksanakan. Dibicarakan pula tenang pengeluaran kerja adat yang sudah dibayar terlebih dahulu oleh pihak anak beru, sembuyak dan juga Kalimbubu. Setelah acara Ertaktak dilaksanakan, maka semua pihak baik Kalimbubu, Sembuyak, dan Anak Beru akan makan bersama-sama.

2.3 Rumah tangga dan keluarga inti

Dalam suku karo jika anak laki-laki belum bekerja maka keluarga tidak akan melepas atau dapat menikah karena dianggap belum mampu menjaga diri sendiri.

2.4 Kelompok-kelompok kekerabatan

Kelompok adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang berinteraksi dan mereka saling bergantung (interdependent) dalam rangka memenuhi kebutuhan dan tujuan bersama, meyebabkan satu sama lain saling mempengaruhi (Cartwright&Zander, 1968; Lewin, 1948)

Kelompok kekerabatan suku bangsa Batak berdiam di daerah pedesaan yang disebut Huta atau Kuta menurut istilah Karo. Biasanya satu Huta didiami oleh keluarga dari satu marga.Ada pula kelompok kerabat yang disebut marga taneh yaitu kelompok pariteral keturunan pendiri dari Kuta. Marga tersebut terikat oleh simbol-simbol tertentu misalnya nama marga. Klen kecil tadi merupakan kerabat patrilineal yang masih berdiam dalam satu kawasan. Sebaliknya klen besar yang anggotanya sdah banyak hidup tersebar sehingga tidak saling kenal tetapi mereka dapat mengenali anggotanya melalui nama marga yang selalu disertakan dibelakang nama kecilnya, Stratifikasi sosial orang Batak didasarkan pada empat prinsip yaitu : (a) perbedaan tigkat umur, (b) perbedaan pangkat dan jabatan, (c) perbedaan sifat keaslian dan (d) status kawin.

2.7 Aktivitas tolong menolong

  • Pertanian

Dalam pertanian di suku karo ada 5 jenis aktivitas pertanian yang dijalani  oleh masyarakat suku karo, yaitu:

1. Pertanian kebun kopi

2. Pertanian kebun jagung

3. Pertanian kebun karet

4. Pertanian kebun nanas

5. Pertanian kebun terong belanda

Disuku karo aktivitas bertani disebut aron. Aron adalah group-group kerja bertani. Baik dilakukan orang-orang laki- laki muda atau gadis maupun yang sudah berumah tangga. Dalam kegiatan aron ada satu kegiatan yang dikenal dengan guro-guro. Yang berarti bersuka ria. Guro-guro aron pada hakikatnya bersuka ria dengan benda atau musik. Yang dijelmakan dalam seni bunyi-bunyian, tari dan naynyian.

  • Rumah  Tangga

Dalam aktivitas tolong menolong suku karo dalam rumah tangga mengenal yang namanya “si-saro-saron” atau bersi tolong-tolongan, yang kemudian beralih menjadi istilah “aron” . dalam rumah tangga suku karo rumah mereka i gambarkan mempunyai sebuah anak tangga yang berarti setiap anak tangga itu mengartikan berapa banyak penghuni di dalam rumah tersebut. Disetiap rumah mereka masing-masing juga mempunyai lumbung tempat menyimpan persediaan makanan, pada musim-musim tertentu, dan juga dibawah rumah mereka juga mempunyai, tempat penyimpanan anak-anak ternak mereka seperti babi, anjing, dan lain-lain. Binatang-binatang tersebut juga mempunyai fungsi untuk memberi pertanda jika ada ancaman di luar rumah. Setiap suami dalam rumah tangga suku karo berperan untuk mencari kerja.

  • Pesta

Dalam aktivitas tolong-menolong suku karo dalam pesta suku karo, mereka sangat saling tolong-menolong untuk mengadakan pesta, seperti:

1.Pesta bunga

2.Pesta buah

3.Pesta hasil pertanian

4.Pesta pernikahan

5.Pesta masuk rumah baru

Aktifitas saat pesta dalam suku karo disebut serayaan. Serayaan adalah kumpulan muda-mudi atau orang tua yang secara bergotong royong untuk membantu melaksanakan pesta adat di suatu desa dengan tidak adanya harapan upah.

  • Upacara

Dalam aktivitas tolong-menolong suku karo dalam hal upacara mereka saling sangat membantu untuk hal upacara, juga mereka saling merayakan satu sama lain. Contoh-contoh upacara di suku karo, yaitu

1.Upacara peralihan

2.Upacara perkawinan

3.Upacara dalam rumah tangga

4.Upacara penguburan

5.Upacara kematian

6.Upacara tanah tanaman

7.Upacara memanggil ujan  

8.Upacara menolak bala

2.8 Peristiwa bencana dan kematian

  • Upacara kematian dan cara penguburannya

Bila ada seseorang meninggal dunia,pihak anak beru dan senina terus bertindak mengadakan mufakat dengan keluarga terdekat yang meninggal dunia. Hal-hal yang dibicarakan dalam mufakat ialah sehubungan dengan acara penguburan,tingkatan acara,kapan dilakukan penguburan,dan siapa saja yang diundang. Ada 2 macam tingkatan acara,yaitu “digendangi” dan tidak “digendangi”. Jika acara penguburan diikuti gendang,maka semua family diundang sedangkan jika acara penguburan tidak diikuti dengan gendang maka tergantung “kekuatan” family almarhum.

Kalau acara penguburan diiringi gendang, ada acara yang harus dilakukan,baik dalam urutan menyanyi, penyampaian “sapu huh”, sedangkan semua family memakai pakaian adat (rose). Disini juga diacarakan pemberian “maneh-maneh” dan “morah-morah”. Maneh-maneh ialah kain adat seperti uis kapal,uis teba didalamnya dikatakan sejumlah uang sebagai batunya dan diserahkan kepada “kalimbubu simada daerah” dimana ini dilakukan apabila yang meninggal, semua anaknya sudah berumah tangga. Sedangkan morah-morah hampir sama dengan maneh-maneh hanya saja morah-morah diserahkan kepada kalimbubu singalo bere-bere ( paman perempuan ) yang meninggal.

  • Sifat dan jenis kematian

a.“Mate sadawari”(meninggal tiba-tiba) seperti berkelahi,hanyut,tersambar petir,bunuh diri dan lain-lain. Dalam acara penguburan mayat tidak boleh dibawa ke dalam rumah,tetapi hanya dihalamannya saja.

b.“Mate mupus”(mati bersalin). Mati bersalin ini dianggap paling hina. Karena dianggap seharusnya memberikan apa yang diharapkan orang yang berumah tangga dengan kelahiran sang bayi namun meninggal pada saat demikian,pada masa lalu dianggap nista dan hina.

c.“Mate lenga ripen”(mati sebelum tumbuh gigi). Dalam acara penguburannya sangat dirahasiakan.

d.“Mate anak perana”ras “singuda-nguda (perjaka dan gadis meninggal). Acara penguburan secara khusus pula.

e.“Mate cawir mertua” adalah seseorang tua renta atau katakanlah semua anaknya telah berumah tangga maka kematian serupa ini dianggap paling mulia dan dihargai.

2.9 Sistem religi

Sistem religi yang diumat oleh suku karo kebanyakan adalah umat kristiani, sedikit sejarah tentang sistem religi di suku karo yaitu, synode adalah sebuah persatuan gereja di suku karo yaitu pada synode pertama kristenitu, adalah dalam suasana perang dunia ke-II (tak normal, dan situasinyapun tidak sehat,tidak damai,tidak tentram). Yang namanya zaman perang pasti tak enak. Setelah synode tanggal 23 juli 1941 di sibolangit memberi nama Gereja Batak Karo maka ternyata dua tahun kemudian tepatnya tanggal 29 september 1943 9jaman pemerintahan militerisme jepang) baru mandiri (jayo).

Lalu pada zaman dulu mereka juga percaya bahwa roh manusia yang masih hidup yang dinamakan “TENDI”, sewaktu-waktu bisa meninggalkan jasad/badan manusia. Kalau hal itu terjadi maka diadakan upacara kepercayaan yang dipimpin oleh guru si baso (dukun) agar tenndi tadi segera kembali kepada manusia yang bersangkutan.

Dengan demikian, pada perkumpulan desa dimana penduduk selalu berada dalam alam fikiran dan kepercayaan tersebut, para warga selalu merasa ada hubungan dengan roh keluarga yang sudah tiada. Terutama nenek moyang yang mereka juga sangat menghormati sebagai pendahulu mereka, pendiri desa,pelindung adat istiadat. Mereka juga percaya bahwa pada kebijakan roh-roh tersebut akan memnentukan keselamatan anak cucu mereka.

Advertisements

5 thoughts on “MAKALAH SUKU KARO

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s